Sore itu adalah saat pertama
aku mendengar namanya,nama itu ku dengar dari kawan sebayaku,lantunan nama yang
panjang namun aku tau bahwa dibalik nama itu tersimpan makna yang besar dan
mulia.
Muhammad Damar Wahyu Al-Qodri
namanya,teman-temannya biasa memanggil “Damar”.Lahir 21 Agustus 1997 dan kurasa
sosok yang sangat muda sebagai mahasiswa.Namun usianya yang terlalu dini tak
menjadi kendala dalam mewujudkan prestasi.Program akselerasi yang
mengantarkannya hingga saat itu ia menjadi mahasiswa di Universitas
Diponegoro.Tak bisa kuimaginasikan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa muda.
Senang sekali rasanya bisa
tau orang yang sepertinya.Ya,kini bukan hanya sekedar kudengar namanya dari
orang lain namun aku berkenalan dengannya.Meskipun tak secara langsung,namun
perkenalan dengannya yang hanya melalui sms membuatku bisa mengerti bagaimana
seorang “Damar”.Selama aku berkomunikasi dengannya lewat sms,aku merasa selalu
sependapat dengannya.Favoritku dengan musik ternyata juga menjadi hobi bahkan
favorit yang sama dengannya.Banyak sekali cerita dan pelajaran yang bisa
kuambil darinya.
Ia banyak bercerita tentang
saudara dekatnya,yang sealu menemaninya kemana-mana.Ia juga satu jurusan dengan
saudaranya yang bernama Fikri.Damar dan Fikri tak pernah mengikuti kuliah
setiap harinya,mereka hanya berangkat saat ujian,dan waktu setiap hari ia
gunakan untuk membantu mengajar di pondok milik orang tuanya.Ia adalah seorang
yang kerap disapa “gus”oleh para santri yang belajar di pesantren.Bagiku sangat
sempurna menjadi anak muda yang berprestasi namun memiliki kemampuan lebih
dalam agama.
Rasa simpati yang mungkin
sedikit terinfeksi oleh rasa cinta mulai tumbuh dalam benakku.Ingin rasanya
bertemu dan bermuwajjahah dengannya.Memang sudah ada rencana berlibur
bersamanya dan saudara-saudaranya,namun tertunda karena saudara dekatnya,Fikri
baru saja mengalami kecelakaan dan saat itu dirawat di ruamah sakit.Selalu
kufikirkan,kutatap teks smsnya yang sampai saat ini masih kusimpan.Ini
benar-benar rasa cinta yang secara alami dan wajar tumbuh dalam benak seorang
remaja.Namun rasa itu tak terlalu kufikirkan,bahkan sempat kuabaikan karena
hilangnya komunikasi antara aku dengannya.
Saat itu aku sibuk dengan
kegiatanku dan mungkin dia juga sibuk dengan kesehariannya.Sama sekali tak ada
kabar darinya.Semakin hari dan bergulirnya waktu aku malah semakin ingin untuk
melupakannya ,namun rasa rinduku padanya meracuni sudut dada.Sulit sekali
bagiku melupakan teman sepertinya walaupun hanya sekali aku berkomunikasi dengannya.
Waktu bergulir begitu
cepat,padatnya jadwal di sekolahku membuatku sedikit berhasil melupakan
Damar.Namun tetap masih ada rasa yang tertinggal di benakku untuknya.
Sekar,sahabat dekatku
sekaligus teman yang mengenalkanku pada Damar tiba”memberitahu dan bercerita
kepadaku bahwa Damar jatuh sakit.Ia memang mepunyai riwayat sakit jantung
dan hal itulah yang membuat Damar tidak
suka dengan keramaian.Dan saat itu juga Ia dirawat di ICU Rumah Sakit Karyadi
Semarang.Aku dan Sekar berencana untuk menjenguknya pada hari jum’at esok.Namun
lagi-lagi tertunda karena aku yang terlalu egois lebih memilih rapat organisasi
daripada menjenguknya.
Kekecewaanku karena tidak
bisa menjenguk Damar seolah menjadi hantu penyesalan yang terus
membayangiku.Ditambah lagi ketika aku mendengar kabar dari Sekar jika saat itu
Damar dalam keadaan koma.Maafkan keegoisanku kawan.
Satu minggu kemudian,tepatnya
hari Jum’at,14 Febuari 2014,mendungnya langit karena awan hitam pekat dari
gunung kelud menutupi pancaran sinar surya yang sebenarnya akan tampak.Derasnya
hujan abu terpaksa kuterjang karena aku harus menuju kesekolah,namun ditengah
perjalanan aku mendapat kabar jika hari itu sekolah diliburkan.Sebenarnya ada
sedikit rasa dongkol yang mengganjal di hatiku karena konfirmasi sekolah yang
terlambat,namun perasaan dongkol itu tak menghalangiku.Aku tetap menuju ke
sekolah karena ada acara organisasi.Hari itu sungguh beda,tak seperti biasanya.Perasaanku
tidak enak,entah kenapa aku juga tak tau,namun konsentrasiku tertuju sepenuhnya
pada Damar.Sungguh hari itu kesemangatanku tak seperti biasanya.Semangatku juga
semakin menurun ketika melihat di sekretariat hanya ada 4 anak yang datang
untuk mengikuti rapat evaluasi.
Sambil menikmati perjalanan
pulang,kuhapus letihku dengan segelas es capucino.Rasanya benar-benar capucino
mix,serupa dengan rasaku saat itu yang tak begitu manis.Setiba di rumah
langsung kuambil air wudhu dan kutunaikan sholat maghrib.Kukeluh kesahkan semua
rasaku pada hari itu kepada Ilahirabbi.
Belum sembuh rasa janggalku yang
ada dalam benak,hingga keesokan harinya saat aku hendak menyantap sarapan
dikantin,sahabat karibku Sekar,tiba dan langsung duduk di sebelahku.Kutatap
wajahnya yang tak seperti biasanya dan kubertanya kepadanya apa yang sebenarnya
sedang terjadi.Ya,detik itu juga kudengar dari Sekar bahwa Damar telah
meninggal dunia kemarin pukul 18.00.Sudut mataku tak sanggup membendung air
mata yang sejak tadi bersiap.Suaraku yang biasanya terdengar riang,kini menjadi
isak tangis yang mewakili jatuhnya air mata serta menggambarkan dukaku yang
begitu mendalam.
14 February 2014 menjadi hari
duka bagiku dan bagi orang yang menyayangi seorang Damar.Telah kutemukan makna
dibalik rasa yang tertinggal saat itu.Hari yang tak akan pernah kulupakan
sampai kapanpun.
Tuhan tak mengizinkan aku dan
kamu untuk bertemu,entah aku yang tak pantas bertemu denganmu atau aku yang
harus memantaskan diri bertemu denganmu.Namun belum sempat ku berbicara
denganmu,belum sempat ku berjabat tangan denganmu,bahkan belum sempat juga
kuucapkan salam yang terakhir kalinya untukmu.
Melepasmu adalah perihal
melepas benarku,meyakinkan hati bahwa mimpi-mimpi yang kau tawarkan tak akan
pernah terjadi.Mungkin kau lupa bahwa pergimu meninggalkan luka yang tak pernah
kau bawa,meracuni sudut dada.Sebenarnya aku tak mau merasa sedih tanpamu,namun
dada merasa perih saat mengingatmu.Melepasmu sudah,merelakanmu
sudah,melupakanmu pun kupaksakan namun tetap saja ada yang pulang bersama hujan
di kelopak mata.Kini aku hanya berharap semoga doa setiap insan yang menyayangimu
bisa sampai kepadamu.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar